No comment yet

Teman dari Negeri Seberang: Kim Tae Gu dan Park Jae Gyu

Annyeonghaseo!
Setelah dua bulan lalu kenalan sama Shiro—mahasiswa Jepang yang belajar bahasa Indonesia di UI, sekarang Cangkir kenalan sama dua teman dari negeri seberang lagi nih. Mereka satu kampung sama Super Junior dan SNSD loh, tau dong dari mana? Yak, benar banget. Mereka dari Korea Selatan (Korsel). Namanya Kim Tae Gu dan Park Jae Gyu.
(Dari kiri ke kanan: Rani, Park Jae Gyu, Lana, Kim Tae Gu, Upi)

Jae Gyu dan Tae Gu Oppa udah tiga semester kuliah di Sastra Indonesia UI. Mereka memilih belajar bahasa Indonesia karena alasan yang berbeda. Kim Tae Gu oppa yang punya nama panggilan Bin memilih belajar bahasa Indonesia karena kesempatan kerjanya lebih banyak. Bin sendiri juga mengambil jurusan bahasa Indonesia Hankuk University of Foreign Studies di Korea Selatan dan dia sekarang sudah semester 6 di Hankuk.
“Kalau belajar bahasa Indonesia, ada kesempatan kerja. Bisa jadi manager.” Kata Tae Gu Oppa dalam bahasa Indonesia yang lumayan fasih.
Berbeda dengan Tae Gu Oppa, Jae Gyu Oppa merupakan orang militer di Korsel. Sebelumnya, dia sudah belajar Malay-Indonesian Linguistic di Hankuk University of Foreign Studies selama satu tahun. Dia bilang dia mau jadi penerjemah antara militer Indonesia dan militer Korea Selatan. Jae Gyu Oppa juga bilang kalau belajar bahasa Indonesia itu lebih mudah daripada belajar bahasa Inggris. Jadi, dia tertarik untuk belajar bahasa Indonesia di sini.
Awalnya, Tae Gu ragu untuk tinggal di Indonesia karena dalam pikirannya fasilitas di Indonesia itu jelek. Namun, setelah datang ke sini ternyata Indonesia lebih bagus dari yang dia pikirkan. Ketika ditanya apa yang tidak disukai di Indonesia, mereka berdua dengan kompak menjawab “Macet.” Menurut mereka, Jakarta itu macet sekali tidak seperti di Korea Selatan. Kalau di Korsel, banyak pilihan kendaraan umum, seperti bus dan subway sehingga mereka dapat terhindar dari macet.
Jae Gyu dan Tae Gu Oppa juga kompak menjawab hal yang ia sukai di Indonesia adalah harga barang-barang yang murah dan orang Indonesia yang ramah.
“Kalau di sini, uang sedikit, tapi bisa dapat banyak. Naik taksi juga murah.” Kata Jae Gyu Oppa ketika ditanya hal yang ia sukai di Indonesia.
Makanan Indonesia yang disukai kedua Oppa ini juga sama, yaitu sate. Namun, Jae Gyu Oppa lebih suka sate ayam dan Tae Gu Oppa lebih suka sate kambing. Mereka juga bilang kalau di Korea itu juga ada makanan yang seperti sate. Ketika ditanya pendapat mereka tentang cewek-cewek Indonesia, mereka bilang cewek Indonesia cantik, tetapi cewek-cewek Korsel lebih cantik lagi. Meskipun begitu, pacar Tae Gu Oppa orang Indonesia loh. Nah, cewek-cewek single Indonesia yang pengen punya pacar kayak anggota Suju, gak usah sedih! Park Jae Gyu Oppa masing single loooooh...
Oiya, Tae Gu Oppa kasih saran nih buat kalian yang mau kuliah di Korea. “Kalau mau kuliah di Korea, kuliah di Kyung Hee University aja. Di sana bagus.” Sekian dulu ya kenalan sama kedua Oppa ini. 
Annyeonghigaseo!








No comment yet

Mengenang Prof. Dr. A. Teeuw


Indonesia kembali dirundung duka dengan meninggalnya salah satu tokoh sastra yang sudah banyak menyumbangkan karya-karyanya di bidang sastra Indonesia, Prof. Dr. A. Teeuw. Beliau meninggal pada tanggal 18 Mei 2012. Berita duka ini tentunya sangat mengagetkan kita semua, terutama para murid, kenalan, dan para pembaca buku-bukunya di Indonesia.
 
Kesediahan dan ucapan terima kasih turut serta mengahantarkan kepergiannya. Bagi para peneliti, kririkus, dan pencinta sastra Indonesia, nama Prof. Dr. A. Teeuw sudah tidak asing lagi. Ia adalah akademikus dan kritikus sastra Indonesia yang sangat terkemuka dan sangat berjasa dalam pengembangan studi bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Leiden, Belanda. Belia mengajar di universitas tersebut selama 27 tahun, yaitu dari tahun 1959-1986. Selama itu pula bahasa dan sastra Indonesia sangat berkembang dan menggema ke seluruh Indonesia.

Sebagai mahasiswa, sudah sepantasnya kita menegenang jasa dan pengabdiannya dalam pengembangan sastra Indonesia. Ucapan terima kasih juga kita ucapkan atas jasa dan pengabdiannya karena tanpa peran Beliau, sastra Indonesia tidak akan mengalami perkembangan seperti saat ini.

Andries "Hans" Teeuw lahir di Gorinchem, Provinsi Zuid-Holland, Belanda, pada 12 Agustus 1921. Beliau meraih gelar doktor di Universitas Utrecht tahun 1946 dengan disertasi berjudul Het Bhomakawya: een Oudjavaans Gedicht. Tahun 1945-1947 A. Teeuw sering berada di Yogyakarta saat cintanya kepada Bhomakawya  mulai mendalam. Setelah menjadi doktor, ia menjadi dosen tamu di Universitas Indonesia tahun 1950-1951 dan di University of Michingan, Amerika Serikat, tahun 1962-1963.

A. Teeuw telah mengukir karier akademiknya dengan sangat gemilang. Ia telah menerbitkan lebih dari 150 buku publikasi ilmiah tentang bahasa dan sastra Indonesia (klasik dan modern, nasional dan daerah, khususnya Jawa, Sunda, dan Melayu), baik yang ditulis sendiri maupun bersama orang lain. A. Teeuw telah berjasa meletakkan fondasi kerja sama akademik Indonesia-Belanda di bidang ilmu-ilmu humaniora, khususnya bahasa dan sastra Indonesia. Banyak kerja sama antara universitas-universitas di Indonesia dengan Universitas Leiden yang dibuat semasa ia menjadi guru besar dan ketua jurusan Bahasa-bahasa dan Budaya-budaya Asia dan Oseania di Universitas Leiden. Lusianan doktor bidang studi bahasa dan sastra Indonesia telah lahir berkat sumbangan akademiknya.
        
Pada tahun 1975, Universitas Indonesia menganugerahinya gelar doktor honoris causa. Sejak terjun di dunia akademik tahun 1940-an sampai bulan-bulan terakhir sebelum meninggal, A. Teeuw tidak pernah berhenti berkarya. Bahkan sejak pensiun tahun 1986, ia tetap produktif menulis. Publikasi terakhirnya (ditulis bersama Willem van der Molen) adalah sebuah artikel berjudul "A Old Javanese Bhomantaka and its floridity" yang dipersembahkan untuk Prof. Lokesh Chandra (2011). Beberapa buku karyanya sudah begitu dikenal oleh para peneliti sastra Indonesia, di antaranya yaitu Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru (terbit pertama kali dalam bahasa Inggris, 1967; Membaca dan Menilai Sastra (1992); dan Indonesia antara Kelisanan dan Keberaksaraan (1995). Kamus yang dieditorinya, kamus Indonesia-Belanda (GPU, 1991), yang merupakan versi Indonesia dari Indonesisch-Nederlandsch Woordenboek (KITLV Press, 1990), telah beberapa kali dicetak ulang dan sampai kini menjadi pegangan utama para penerjemah dan mahasiswa Belanda yang ingin belajar bahasa Indonesia.

A. Teeuw juga telah menghasilkan beberapa publikasi tentang Pramoedya Ananta Toer dan karya-karyanya. Bersama mantan muridnya yang kemudian menjadi suksesornya sebagai profesor bahasa dan sastra Indonesia di Leiden, Henk Maeir, ia gigih memperkenalkan pengarang terkemuka Indonesia itu dalam wacana akademik internasional. Lewat uapaya ini mereka berharap Pramoedya akan dinominasikan sebagai peraih Hadiah Nobel. Namun, sampai akhir hayat yang mempromosikan maupun yang dipromosikan, harapan tersebut tidak pernah menjadi kenyataan.
No comment yet

Halo!
Semoga kalian belum terlalu bosan menunggu Cangkir edisi bulan ini yang datangnya agak terlambat. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih untuk segala bentuk apresiasi kalian. Untuk kalian yang menyeruput isi Cangkir dengan penghayatan penuh, pun untuk kalian yang mampir secara tidak sengaja, semoga kalian masih semangat menanti kehadiran berbagai edisi Cangkir berikutnya :)


Winasti Rahma Diani